![]() |
Kitab Sirajuth Thalibin |
Lantaran kelihaiannya dan kedalaman uraiannya dalam mensyarah adikarya terakhir Imam Al-Ghazali itu, Syaikh Ihsan digelari “Al-Ghazali Ash-Shaghir” (Al-Ghazali Muda) oleh para ulama di Timur Tengah.
Hingga di penghujung akhir abad ke-19 M, ulama-ulama Indonesia masih memiliki peranan sangat besar dalam mewarnai belantika dunia keilmuan Islam di kiblatnya, yakni Timur Tengah, utamanya di Makkah, Madinah, dan Mesir. Salah seorang tokoh ulama tersebut ialah Syaikh Ihsan bin Muhammad Dahlan Al-Jampisi Al-Kadiri (Jampes, Kediri).
Syaikh Ihsan, tokoh yang haulnya diperingati pada bulan Dzulqa’dah ini, adalah sosok yang unik dan sangat menarik. Unik, melihat latar belakang pribadinya di masa muda. Dan menarik, karena karya-karyanya.
Syaikh Ihsan lahir pada tahun 1319 H/1901 M. Sayangnya, tidak cukup data tentang hari, tanggal, dan bulan kelahirannya. Begitu juga untuk mendapatkan foto dirinya, tergolong sulit.
Syaikh Ihsan bukan santri jebolan Timur Tengah, yang tumbuh dalam tradisi keilmuan dan kebudayaan bangsa Arab. Namun, kefasihannya dalam bertutur bahasa Arab, bahasa Al-Qur’an, seperti seorang yang telah banyak menimba manisnya belajar di Timur Tengah. Hal itulah yang terlihat dalam karya-karyanya.
Syaikh Ihsan murni “produk lokal”, yang tumbuh dari pengembaraan yang panjang di berbagai pesantren di tanah Jawa. Ia melanglang buana dari satu pesantren ke pesantren lainnya, seperti Pesantren Bendo Pare Kediri, Pesantren Jamsaren Solo, Pesantren Mangkang Semarang, Pesantren Punduh Magelang, Pesantren Gondanglegi Nganjuk, Pesantren Syaikh Cholil Bangkalan Madura, dan Pesantren Kiai Dahlan Darat Semarang.
Yang unik dari rihlah ilmiyahnya itu, ia tak pernah berlama-lama menghabiskan waktu. Untuk belajar kitab Alfiyyah Ibn Malik dari Syaikh Cholil Bangkalan, misalnya, ia hanya membutuhkan waktu dua bulan. Belajar ilmu falak kepada Kiai Dahlan Semarang hanya dua puluh hari. Namun ia selalu berhasil memboyong ilmu-ilmu gurunya dalam benak pikiran dan catatannya.
Keunikan yang lain, ia tak pernah memperkenalkan sosok dirinya sebagai seorang putra ulama. Bilamana asal-usul dirinya diketahui santri-santri lain, ia segera pergi dan “menghilang” begitu saja untuk melanjutkan perjalanannya ke pesantren lainnya. Di pesantren-pesantren tersebut, Ihsan sepertinya hanya ingin memperoleh ijazah bagi kitab-kitab yang ia pelajari. Sepulang mengembara dari pesantren ke pesantren, ia kembali ke kampung halamannya, Jampes, Kediri.
Pada tahun 1926 M/1344 H, Ihsan muda berangkat haji dan bermukim di Tanah Suci untuk beberapa waktu yang relatif singkat.
Dua tahun sepulang ia dari Makkah, ayahnya, K.H. Dahlan, wafat. Tampuk pimpinan pengelola pesantren dipegang adik ayahnya, K.H. Kholil.
Empat tahun kemudian, yakni tahun 1932 M/1350 H, atas persetujuan keluarga besar, Ihsan dipercaya mengelola pesantren warisan ayahnya. Semenjak itulah ia menjadi pengasuh Pesantren Jampes, dengan sebutan “Kiai Ihsan”, “Syaikh Ihsan”, atau “Mbah Ihsan”.
Semenjak menjadi pengasuh Pesantren Jampes, Syaikh Ihsan hanya beberapa jam beristirahat. Waktunya dihabiskan di ndalem-nya, di sebelah Sungai Brantas, untuk mengajar santri-santrinya, melakukan muthala’ah (meneliti kitab-kitab), dan menulis. Bacaannya tidak hanya meliputi pengetahuan agama, tapi juga beraneka ragam, baik yang berbahasa Arab maupun Melayu. Ia juga suka membaca koran, sehingga menambah keluasan wawasannya.
Manahijul Imdad
Kemampuan Syaikh Ihsan Jampes dalam menulis berbahasa Arab sangat mumpuni, ditambah penguasaan terhadap keilmuan Islam yang sangat mendalam.
Beberapa karya muncul dari tangan kreatifnya, seperti kitab Tashrihul ‘Ibarat Syarh Natijatul Miqat, karya pertamanya di bidang astronomi dan ilmu falak, yang ditulis saat usianya belum genap 30 tahun. Kitab setebal 48 halaman ini merupakan syarah atas kitab Natijat, karya K.H. Ahmad Dahlan Semarang, gurunya.
Kemudian, kitab Manahijul Imdad Syarah Irsyadul Ibad, yang sempat disunting Syaikh Yasin Al-Fadani satu jilid. Kitab ini, hampir-hampir tak ada yang berani menyanggupi penyuntingannya, karena ketajaman dan keluasan ulasan Syaikh Ihsan.
Kitab Manahijul Imdad merupakan syarah atas kitab Irsyadul Ibad, karya Syaikh Zainuddin Al-Malibari. Kitab Al-Malibari yang setebal 118 halaman itu diulas kembali oleh Kiai Ihsan dalam bentuk kitab setebal 1.088 halaman yang terdiri dari dua jilid. Manahijul Imdad adalah salah satu karya besarnya yang ditulisnya pada tahun 1940 M.
Semula naskah asli kitab Manahijul Imdad berada di perpustakaan Kairo dan sebuah penerbit yang pernah ditunjuk untuk mencetaknya dan menerbitkannya. Namun ketika pihak keluarga berusaha untuk mengambilnya dan meng-copy-nya, pihak perpustakaan tidak berkenan untuk menyerahkannya. Begitu pula dengan pihak perusahaan penerbitan. Hingga pada akhirnya pihak keluarga besar Pesantren Jampes memperoleh salinan naskah dari salah seorang murid Syaikh Ihsan yang tinggal di Semarang. Setelah diterbitkan, naskah aslinya baru diberikan oleh pihak perpustakaan Kairo kepada pihak keluarga.
Tentang karya ulasannya ini, beberapa ulama menilai, sepantasnya Syaikh Ihsan menempati posisi yang sama dengan pengarang aslinya. Ulasannya yang mendalam disertai pengembangan dalil-dalil yang dijadikan hujjah telah menempatkan kitab ini lebih dari sekadar syarah.
Syaikh Ihsan melakukan tinjauan terhadap sumber nash yang dikutip, baik dari Al-Qur’an maupun hadits. Sang syarih (pensyarah) mencoba meluruskan penempatan hadits yang digunakan, menjelaskan bahasa yang digunakan, serta memperluas keterangan dari berbagai sumber kitab klasik lainnya.
Berbeda dengan kitab fiqih yang lain, seperti Sullam at-Taufiq, Fathul Mu’in atau Fathul Wahhab, yang lebih mengutamakan aspek hukum dan kaifiyah (cara) ibadah, kitab fiqih ini diletakkan dalam perspektif tasawuf, menekankan makna dan hikmah pengamalan ajaran tersebut dan berbagai keutamaan yang diperoleh dalam menjalankannya. Dengan demikian, pelaksanaan syari’at Islam tidak sekadar menjalankan kewajiban, tetapi lebih diarahkan sebagai proses kebutuhan manusia untuk memperdalam spiritualitasnya, menyempurnakan akhlaqnya, serta proses pendekatan diri kepada Ilahi.
Kitab yang terakhir ditulis Syaikh Ihsan adalah Irsyadul Ikhwan fi Bayan Hukm Syurb al-Qahwah wa ad-Dukhan. Kitab ini merupakan syarah atas kitab Tadzkirah al-Ikhwan, karya K.H. Muhammad Dahlan, gurunya. Kitab ini membahas seluk beluk dan hukum merokok dan minum kopi. Mungkin ini satu-satunya kitab yang secara khusus memuat seluk beluk rokok dan kopi.
Dalam kitab tersebut dipaparkan sejarah panjang perjalanan rokok dan kopi hingga menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat dan menjadi perhatian hukum di kalangan ulama. Syaikh Ihsan tidak menjustifikasi pendapat-pendapat itu. Ia juga membeberkan pendapat-pendapat ulama dari masa pertengahan Islam.
Sirajuth Thalibin
Sirajuth Thalibin adalah karya agung Syaikh Ihsan Jampes selain Manahijul Imdad. Kitab ini merupakan komentar atas karya pamungkas Imam Al-Ghazali, Minhajul Abidin. Dari karya inilah Syaikh Ihsan lebih dikenal masyarakat luas, hingga ke Timur Tengah, lantaran kitab ini mempunyai nilai keilmuan yang sangat tinggi.
Kitab Sirajuth Thalibin merupakan syarah adikarya terakhir Imam Al-Ghazali sebelum ia wafat, Minhajul ‘Abidin Ila Jannati Rabbil ‘Alamin. Syaikh Ihsan menyelesaikan syarah atas kitab tersebut selama kurang dari delapan bulan. Karya ini selesai, sebagaimana disebutkannya dalam kitab tersebut, pada hari Selasa, 29 Sya’ban 1351 H/27 Desember 1932 M, di kediamannya di Pesantren Jampes, Kediri.
Lantaran kelihaiannya dan kedalaman uraiannya dalam mensyarah adikarya terakhir Imam Al-Ghazali sebelum wafat itu, Syaikh Ihsan digelari “Al-Ghazali Ash-Shaghir” (Al-Ghazali Muda) oleh para ulama di Timur Tengah. Kabar kealimannya membuat Yang Mulia Raja Faruq Mesir kesengsem dan meminta kesediaan Syaikh Ihsan untuk membantu mengajar di Universitas Al-Azhar, Kairo. Konon, beberapa utusan raja Mesir itu mendatangi Pesantren Jampes untuk meminta kesediaan Syaikh Ihsan.
Namun Al-Ghazali Muda ini menolak permintaan itu. Ia lebih memilih mengasuh pesantrennya yang terletak di dusun sepi dan terpencil di Kediri tersebut. Belakangan, karya agungnya ini sempat dijadikan buku pegangan di Program S2 Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar pada dekade tahun ‘60-an.
Ada cerita menarik tentang kitab yang untuk pertama kalinya dicetak oleh perusahaan penerbitan terkemuka di Mesir (Musthafa Al-Babi Al-Halabi) ini. Di Mali, Afrika Barat, ulama setempat yang sedang mengajar di sebuah masjid dengan membacakan kitab Sirajuth Thalibin ini mengira nisbah Al-Kadiri yang tertera di ujung nama Syaikh Ihsan adalah sebuah nama daerah di sekitar Baghdad, Irak, padahal kata itu dinisbahkan ke Kediri, kota kelahirannya. Mereka tak mengira, ada penulis di luar Jazirah Arab yang memiliki kemampuan bahasa dan keluasan ilmu sebagaimana yang termaktub dalam karyanya tersebut.
Sejumlah tokoh ulama memberi kata sambutan atas karyanya ini di akhir halaman kitab. Di antaranya, gurunya, Hadhratusy Syaikh K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari Jombang, Syaikh K.H. Abdurrahman bin Abdul Karim Nganjuk, Syaikh K.H. Muhammad Yunus Abdullah Kediri, Syaikh K.H. Muhammad Khazin bin Shalih Benda Pare, Syaikh K.H. Muhammad Ma’ruf bin Abdul Majid Kedunglo, Syaikh K.H. Abdul Karim Lirboyo. Mereka semua memuji hasil karya Syaikh Ihsan ini setelah menelaah isinya, yang sarat dengan ilmu tasawuf.
Kitab Sirajuth Thalibin mensyarah dengan sangat mendalam bahasan yang dituangkan kitab Minhajul ‘Abidin. Diawali dengan sepatah kata pengarang, penjelasan dasar-dasar ilmu tashawuf, makna basmalah dalam tafsiran yang dalam, arti dan karakter seorang ahli fiqih yang shalih dan zahid yang merujuk pada biografi Imam Al-Ghazali.
Pada bahagian selanjutnya, Syaikh Ihsan Jampes menjelaskan siapa yang pertama kali mengarang buku dan hukum mengarang. Seperti dikemukakannya di awal sepatah katanya, Syaikh Ihsan Jampes menekankan pentingnya menulis. Dengan membaca dan menulis, berarti kita telah memahami dan mensyukuri nikmat Allah, seperti yang dijelaskannya, “Orang yang menulis sesungguhnya telah meletakkan akalnya dalam tingkatan-tingkatan derajat dan kehormatannya atas manusia lain.”
Kitab Sirajuth Thalibin diterbitkan pertama kali pada tahun 1936 oleh penerbit dan percetakan An-Nabhaniyah, milik Syaikh Salim bin Sa’ad An-Nabhan dan saudaranya, Syaikh Ahmad, di Surabaya, yang bekerja sama dengan percetakan Musthafa Al-Babi Al-Halabi Kairo, Mesir, sebuah percetakan besar yang terkenal banyak menerbitkan buku-buku ilmu agama Islam karya ulama besar Abad Pertengahan.
Syaikh Ihsan wafat pada hari Senin, 25 Dzulhijjah 1371 H/15 September 1952 M, dalam usia 51 tahun. Ia meninggalkan ribuan santri, seorang istri, dan delapan putra dan putri.
Kepergiannya memberi obor semangat bagi jutaan santri remaja dan pemuda Islam Indonesia yang menimba ilmu di negeri sendiri bahwa dengan belajar di negeri atau kampung halaman sendiri pun bisa berprestasi dalam berkarya dengan bahasa Arab, bahasa Al-Qur’an, sebagaimana Syaikh Ihsan Jampes.