-->



6/recent-posts/slider2

404

We Are Sorry, Page Not Found

Apologies, but the page you requested could not be found.

Home Page

Profil KH. Miftah – Tegal

KH. Miftah – Tegal
KH. Miftah – Tegal

Beliau dilahirkan di Tegal pada tahun 1920 M dan wafat di Tegal pada tanggal 3 Jumadil Akhir 1414 H/ 1994 M. Jasad beliau dimakamkan di desa Kajen, kec. Talang, kab. Tegal.

Pengembaraan menuntul ilmunya dimulai di Pondok milik kakaknya di Pekalongan pd usia skitar 8 tahun. Dalam usia tsb beliau tlah mampu menghafal beberapa kitab klasik seperti matan Al-Ajrumiyyah, Nadzom Maqshud dan Al-’Imrithiy.

Setelah 2 tahun beliau mondok kepada kakaknya, beliau meneruskan ke Ponpes. Kempek Cirebon selama 4 tahun. Usai dari Kempek beliau mulai melanjutkan pengembaraan menuntut ilmunya ke daerah timur. Beliau sempat mondok di Watucongol walau sebentar saja hanya sekitar 2 bulan. Kemudian beliau memutuskan untuk mondok di Mbah Manaf Romo KH. Abdul Karim Ponpes. Lirboyo Kediri selama 25 tahun.

Pengembaraannya yang cukup lama (kurang lebih 31 tahun) membuahkan hasil. Jadilah beliau mjd seorang yg alim n mengamalkan ilmunya. Kepulangannya ke kampung halaman disambut dengan suka cita warga setempat sehingga akhirya beliapun menjadi tokoh panutan warga NU dan khususnya warga Tegal.

Nasab Beliau.


Dari anak-anak beliau tak ada yang mengetahui keturunan siapakah sebenarnya sang abah?
Berdasarkan penuturan anaknya bahwa setelah dicari dari berbagai sumber terpercaya ternyata KH. Miftah adalah keturunan dari Sunan Amangkurat yang bersambung kepada Raja Mataram hingga kepada Raja Brawijaya.

Perjuangan Beliau.

Seperti halnya para tokoh-tokoh ulama lainnya dalam memperjuangkan agama islam, beliau tak setengah-setengah menyerahkan jiwa dan raganya demi tegaknya akidah Ahlussunnah waljama’ah di bumi Indonesia khususnya di kota Tegal.

Dalam struktural NU beliau pernah menjabat sebagai:
1. Rois Syuriyah PC NU Kab. Tegal
2. Syuriyah PWNU Jawa Tengah
3. Tim 9 Lajnah Falakiyah PBNU.
dan beliau juga termasuk menjadi Tim Itsbat Departemen Agama RI.

Pesan KH. Miftah:
“Tawadhu’, andap asor, rendah hati, sedikit bicara, dan menghargai waktu.”

“Hargailah waktu, orang yang tidak bisa dan tidak mau menghargai waktu, pertanda orang tersebut tidak mengerti harga dan mahalnya waktu.”

sumber : sarkub.com
Google+ Linked In Pin It
All Rights Reserved by Beritamu © 2015 - 2016